Tempat Pulang Terbaik
Perjalanan jauh bukan tentang jarak, melainkan pengingat akan kecilnya aku di hadapan kehendak-Nya. Aku belajar melepas, namun juga belajar terikat— antara dunia dan janji akhirat. Sampai kapan aku berdiri di antara ragu dan yakin? Sampai kapan langkah ini menawar takdir yang telah tertulis? Namun perjalanan ini adalah sujud yang memanjang, langkah-langkah sunyi menuju rasa syukur yang perlahan matang. Mengingat-Nya sudah cukup menenangkan, menyebut nama-Nya cukup untuk menahan runtuhnya kegelisahan. Meski hati tak sepenuhnya bersih, dan raga menyimpan jejak-jejak dosa yang enggan pergi. Aku tahu, tempat paling aman selalu bernama rumah. Rumah yang menyambut dengan salam ketenteraman, rumah yang menghangatkan tanpa menuntut kepemilikan, rumah yang mengajarkan arti kehilangan. Aku sering bertanya dalam doa: kapan aku pantas pulang ke sana? Atau memang belum saatnya, karena langkahku masih terlalu berat oleh cinta dunia. Mungkin rumah itu sunyi, tanpa cahaya, tanpa suara, selain gema per...
