Tempat Pulang Terbaik
Perjalanan jauh
bukan tentang jarak,
melainkan pengingat
akan kecilnya aku
di hadapan kehendak-Nya.
Aku belajar melepas,
namun juga belajar terikat—
antara dunia
dan janji akhirat.
Sampai kapan aku berdiri
di antara ragu dan yakin?
Sampai kapan langkah ini
menawar takdir yang telah tertulis?
Namun perjalanan ini
adalah sujud yang memanjang,
langkah-langkah sunyi
menuju rasa syukur
yang perlahan matang.
Mengingat-Nya
sudah cukup menenangkan,
menyebut nama-Nya
cukup untuk menahan
runtuhnya kegelisahan.
Meski hati tak sepenuhnya bersih,
dan raga menyimpan
jejak-jejak dosa
yang enggan pergi.
Aku tahu,
tempat paling aman
selalu bernama rumah.
Rumah yang menyambut
dengan salam ketenteraman,
rumah yang menghangatkan
tanpa menuntut kepemilikan,
rumah yang mengajarkan
arti kehilangan.
Aku sering bertanya dalam doa:
kapan aku pantas pulang ke sana?
Atau memang belum saatnya,
karena langkahku
masih terlalu berat
oleh cinta dunia.
Mungkin rumah itu sunyi,
tanpa cahaya,
tanpa suara,
selain gema pertanggungjawaban.
Mungkin rumah itu dingin,
karena amal yang tipis,
karena sujud yang tergesa,
karena doa yang sering tertunda.
Namun aku tenang—
sebab segalanya
telah diberi keterangan.
Tinggal aku mau atau tidak berjalan,
menukar lelah dunia
dengan bekal perjalanan,
menabung amal
untuk hari kepulangan.
Rumah itu bukan impian kosong,
ia janji yang pasti,
disiapkan bagi setiap jiwa
yang berani kembali.
Di sanalah
aku berharap disambut senyum,
bukan oleh dunia,
melainkan oleh ampunan-Nya.
Sebab setiap yang bernapas
pasti akan pulang
pada satu tempat
yang tak bisa ditunda:
kematian—
gerbang perjumpaan
dengan keabadian.
- 17 Jan 2026


Komentar
Posting Komentar